Senin, 14 Juni 2021

Persayaratan Kolam Ikan Gurame

 Persayaratan Kolam Ikan Gurame

Ukuran ideal untuk kolam tersebut adalah 6-12 meter persegi, dengan kedalaman 90-150 cm. Untuk kolam dengan ukuran tersebut sudah bisa menampung puluhan gurame dengan bobot 2,5 ons. Bila Anda tidak memiliki lahan untuk membuat kolam, maka bisa membuat kolam terpal dengan ukuran yang lebih kecil.

Dengan ukuran 1 meter2 Anda sudah bisa membuat kolam terpal yang mampu menampung 10-15 gurame. Untuk mendapatkan terpal dengan ukuran sekitar 2 x 3 meter, Anda hanya membutuhkan biaya sekitar Rp30.000. Lalu untuk pemupukan, harga pupuk per 1 kg adalah sekitar Rp15.000. Gurame termasuk ikan yang mudah untuk dibudidayakan. Ikan ini bisa hidup di sembarang tempat dengan syarat ketersediaan air yang cukup untuk mengisi wadah pemeliharaan (kolam). Meskipun begitu, pemilihan lokasi yang tepat untuk budidaya juga perlu diperhatikan.

Berikut ini beberapa persyaratan lokasi yang baik untuk budidaya ikan gurame agar budidaya gurame makin mudah diterapkan :

a. Ketinggian Tempat

Lokasi sebaiknya memiliki ketinggian 20-400 m dpl. Pada ketinggian ini pertumbuhan gurame akan optimal. Bila lokasi di atas kisaran tersebut maka pertumbuhan akan lambat.

b. Suhu

Gurame tumbuh baik di daerah besuhu 25-28 derajat Celsius. Ikan ini sangat peka terhadap perubahan suhu. Lokasi yang perubahan suhunya terlalu ekstrim akan menyebabkan ikan stress. Perubahan suhu dapat dikendalikan dengan pengaturan volume air. Saat cuaca panas, tinggi air dapat ditingkatkan 10-20 cm dari biasanya. Sementara saat hujan atau suhu dingin, tinggi air dapat diturunkan.

c. Kualitas Air

Kandungan oksigen terlarut (DO) yang dibutuhkan sekitar 7,8 ppm. Derajat keasaman air (pH) yang ideal adalah 6,5-7,0 dengan nilai kesadahan (Hd) 7. 

Kadar oksigen yang terlarut sebenarnya tidak terlalu berpengaruh pada gurame, karena gurame memiliki labirin yang berfungsi mengambil udara. 

Air dari sungai atau irigasi bisa dipakai untuk budidaya asalkan tidak tercemar limbah pestisida dan limbah rumah tangga. Karena gurame menyukai air bersih. Air yang berasal dari saluran air sebaiknya diendapkan terlebih dahulu karena dikhawatirkan mengandung kotoran. Kotoran yang bercampur dengan sisa pakan akan mengakibatkan pembusukan. Hal ini akan memicu timbulnya bakteri, parasit dan cacing.

d. Ketersediaan Air

Air yang tersedia untuk budidaya harus terjamin dalam jumlah dan kualitas. Pada musim kemarau, masukan dari pengairan diharapkan masih tersedia sehingga tidak mengganggu kegiatan budidaya. Sementara saat hujan, diusahakan agar air tidak berlebih, agar tidak timbul banjir. Ketersediaan air sangat penting dikarenakan kegiatan pembenihan sangat memerlukan air yang relatif cukup banyak.

e. Kondisi Lingkungan Sekitar Lokasi

Lahan yang hendak digunakan sebaiknya disesuaikan dengan skal usaha yang dilakukan. Untuk pembenihan atau pembesaran, luas lahan akan berbeda. Sebaiknya, lahan yang akan digunakan jauh dari gangguan berbagai aktivitas yang dapat mengganggu kegiatan budidaya, terutama kawasan pabrik dan industri. Selain itu ketersediaan sarana transportasi dan komunikasi yang memadai juga sangat diperlukan.

f. Ketersediaan Pakan Gurame

Pakan gurame harus tersedia secara kontinu di lokasi budidaya. Pellet sebagai pakan tambahan dapat didatangkan dari daerah lain. Daun sente sebagai pakan pokok merupakan pakan kegemaran gurame terkadang sulit dicari. Oleh karena itu, sebaiknya para pembudidaya menanamnya di sepanjang pematang kolam.

Gambar 1. Kolam Ikan 

Sumber referensi :

https://www.minapoli.com/info/budidaya-ikan-gurame-pemula-harus-perhatikan-ini#:~:text=Ukuran%20ideal%20untuk%20kolam%20tersebut,dengan%20ukuran%20yang%20lebih%20kecil.








Jumat, 11 Juni 2021

Cara Menetaskan dan Merawat Larva Gurame

Cara Menetaskan dan Merawat Larva Gurame 

Telur gurame bisa didapatkan dari pengepul telur gurame atau bisa juga telur gurame didapat langsung dari petani budidaya ikan gurami,sehingga hal ini pelaku penetasan telur gurami tidak memerlukan lahan yang besar untuk merawat induk gurame,karena perawatan induk gurami memerlukan lahan/kolam yang luas,harga telur gurame di tingkat petani dan pengecer rata=rata RP.25,- hingga Rp.45,-.harga telur gurami sering berubah karena peternak ikan masih mengandalkan perkawinan secara alami dan tergantung sekali dengan cuaca atau iklim pada saat gurame dipijahkan.


PEMINDAHAN TELUr  GURAME /seleksi telur gurami

Pemindahan telur gurami dari sarang atau palstik tempat membawa telur gurami dari pengepul harus hati-hati agar tidak merusak telur gurame. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan sendok sayur plastik. Saat pemindahan, telur  gurame tidak boleh bersentuhan dengan alat, yaitu setiap pemindahan harus dengan menggunakan air, dan dilakukan secara bertahap.

Sambil pemindahan, dilakukan pemisahan antara telur-telur gurami yang berkualitas baik dengan telur-telur yang berkualitas jelek. Keduanya bisa dibedakan dengan melihat warnanya. Telur gurame yang baik berwarna kuning tua, sedangkan telur gurame yang jelek berwarna putih. Telur gurame yang baik dimasukan langsung ke dalam wadah-wadah penetasan, sedangkan yang jelek dibuang.karena bisa mengotori air dalam wadah penetasan. Hingga akhirnya bisa membuat air menjadi bau dan kualitas air menjadi buruk, dimana oksigennya sangat rendah, sedangkan karbondioksida dan NH3 tinggi. Pembuangan telur gurame dilakukan dengan cara penyimponan atau mengalirkan telur lewat selang kecil yang telah diberi air.

Penetasan telur gurame bisa dilakukan dalam ember,paso, baskom plastik besar, bak plastik, bok sterefoam pengemasan ikan,akuarium dan tempat sejenis lainnya. Wadah-wadah itu harus diletakan di tempat yang teduh, misalnya samping rumah. Akan lebih baik lagi dalam ruangan, atau kamar agar fluktuasi suhu dapat terjaga. Lingkungan yang tenang adalah tempat penetasan yang baik, karena jika sering kaget telur tidak akan menetas.


PERSIAPAN PENETASAN TELUR GURAME

dalam kegiatan pemeliharaan larva ikan gurame hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

- wadah pemeliharaan

- kualitas air

- pakan

- pemeliharaan/cara penanganan

Cuci bersih wadah yang akan digunakan sebagai tempat penetasan, upayakan benar-benar bersih dari bahan kimia atau bahan beracun dan berbahaya lainnya dari wadah. Gunakan deterjen saat pencucian pertama kali, lalu dapat diulang menggosok permukaan bagian dalam wadah dengan potongan gedebog pisang.

Setelah wadah benar-benar bersih, isi dengan air bersih (tidak harus jernih), dari kolam/sawah/danau/irigasi, air sumur yang sudah diendapkan 2 hari, atau air PAM yang sudah diendapkan lebih dari 4 hari. Jangan menggunakan air PAM yang mengandung kaporit tinggi (biasanya tercium bau kaporit).


KEPADATAN TELUR

contoh: jika penetasan telur gurame menggunakan akuarium,untuk akuarium dengan ukuran 80 x 40 x 40 cm jumlah telur gurame yang bisa ditampung sekitar 2.000 butir telur. untuk menambah oksigen dan airnya diberi methilin blue dengan warna biru seulas untuk mencegah serangan jamur.

ketinggian air untuk pemeliharaan telur di akuarium 15 cm,Kepadatan telur selama proses penetasan adalah 4-5 butir/cm2 dengan pemberian aerasi kecil dan juga heater/pemanas air,pemberian airasi kecil dan pemanas air atau pemanas ruangan ini jika di perlukan karena setiap daerah berbeda beda cara penanganan perawatan telur gurami yang baik,jika lebih aman tidak memakai airasi karena pemakaian aerasi untuk penetasan telur gurami bisa membuat telur gurami mabuk. aerator berfungsi untuk mensuplai oksigen ke air akuarium. aerator ini berfungsi meningkatkan kandungan oksigen. oksigen diperlukan oleh ikan untuk membantu meningkatkan pertumbuhan ikan. proses metabolisme ikan dalam tahap pertumbuhan memerlukan oksigen, bila kandungan oksigen di dalam akuarium kurang maka akan mempengaruhi kehidupan ikan sehingga ikan pertumbuhannya kurang optimal.

Tipe heater berbeda-beda ada yang 50 watt, 75 watt dan 100 watt namun kesemuanya itu sama yaitu untuk meningkatkan suhu air dan mempertahankan suhu air pada media pemeliharaan agar suhu air stabil tidak berfluktuasi tinggi terutama pada pergantian cuaca, malam ke siang siang ke malam.

hal yang sangat berpengaruh terhadap adanya heater adalah suhu air, dimana suhu air membantu dalam meningkatkan nafsu makan ikan, ikan akan bertambah nafsu makannya pada kondisi air yang suhunya optimal (hangat) karena bila suhu optimal akan membantu proses metabolisme ikan dalam menguraikan makanan menjadi energi dan untuk pertumbuhan ikan. ikan akan bertambah berat dan panjang bila ada nutrisi yang didapatkannya, nutrisi yang utama untuk kebutuhan ikan adalah protein disamping nutrisi lainnya seperti karbrohidrat, lemak Suhu optimal untuk pemeliharaan larva adalah 20 - 29 derajat celcius.

Telur  gurame akan menetas dalam selang waktu 24-48 jam tergantung suhu media penetasan. Sebaiknya suhu dipertahankan pada kisaran 29- 30 oC untuk meningkatkan derajat penetasan telur ikan gurame.  Larva biasanya akan bergerak berputar-putar dan berkelompok. Siapkan tempat untuk pendederan, karena pada hari ke 3-4 larva gurami sebaiknya sudah dipindahkan ke kolam pendederan untuk pemeliharaan selanjutnya. Di kolam pendederan (usia 4-5 hari) larva sudah berenang dengan perut buncit berisi kuning telur, sehingga belum perlu diberi pakan BIASANYA Pemberian pakan dimulai saat larva berusia 7-8 hari..


PAKAN SETELAH PENETASAN

Pemberian pakan dapat dimulai setelah larva dipindahkan kekolam emen atau terpal. Pakan berupa cacing rambut (Tubifex sp.), Daphnia sp., Moina sp., atau pakan alami lainnya yang sesuai ukurannya. Benih gurame dapat dipelihara di akuarium, bak kayu yang dilapisi plastik, bak tembok atau ditebar langsung ke kolam pendederan.

Pemeliharaan benih pada wadah terkontrol harus dilengkapi dengan aerasi untuk suplai oksigen dan terhindar dari kontak langsung dengan hujan namun hal ini tiap daerah berbada beda karena banyak petani gurame yang kolamnya tidak ada atapnya.

Pakan awal berupa cacing rambut, Daphnia sp., Moina sp., atau sumber protein hewani lainnya. Bahan-bahan nabati dapat mulai diberikan setelah larva berumur 36-40 hari. Sedangkan pakan buatan (pelet) dapat diberikan dengan menyesuaikan bukaan mulut ikan. Setelah 15-20 hari, lakukan seleksi dan kelompokan sesuai ukuran lalu pisahkan kolam pendederan untuk masing-masing ukuran, agar pertumbuhan bibit gurami seragam, dan mudah penentuan harga jika ada pesanan.

Lama pemeliharaan dan benih yang dihasilkan antara lain: Benih berumur 40 hari dapat mencapai ukuran 1-2 cm (setara ukuran kuku). Benih berumur 80 hari dapat mencapai ukuran 2-4 cm (setara ukuran jempol). Benih berumur 120 hari dapat mencapai ukuran 4-6 cm (setara ukuran silet). Dan benih berumur 160 hari dapat mencapai ukuran 6-8 cm (setara ukuran korek di masyarakat).


PENETASAN teler gurame  termasuk mudah untuk dipelajari. Jika sudah bisa membedakan mana telur yang bagus dan jelek ,maka memilih usaha penetasa /pem benih an ikan gurame merupakan pilihan yang tepat. Banyaknya pelatihan-pelatihan, buku-buku dan dan para ahli membuat kita bisa cepat belajar. Namun, bukan berarti tidak ada kelemahan pada cara budidaya penetasan telur gurame  ini, tetap ada kendala dan kesulitan yang akan kita hadapi. Karena kondisi lingkungan yang berbeda belum tentu keberhasilan yang kita dapat akan sama. Contohnya ketersediaan air alami dan suhu di tiap daerah ber beda beda.

 Oleh karena itu kita sesuaikan dengan kemampuan kita dan jika bisa kita mungkin akan menemukan cara yang berbeda sehingga kelemahan dan kendala yang kita hadapi dapat kita minimalisir. Banyak - banyaklah belajar dan bertanya pada pakar maupun peternak ikan gurame yang sudah berpengalaman sebelumnya. Tidak ada salahnya kita mengikuti seminar yang biasanya diadakan di masyarakat setempat. Karena bisnis benih lgurame ini tidak akan ada habisnya, masih banyak peternak yang kesulitan memenuhi permintaan pasar ikan  benih gurami yang membludak .


Gambar 1. Larva/Telur Gurame 

Sumber referensi :

http://www.benihgurame.com/2014/12/cara-menetaskan-telur-gurame-dan.html









Minggu, 06 Juni 2021

Pestisida Nabati

Pestisida Nabati 


    Sebagai salah satu alternatif pengendalian serangga hama tanaman, penggunaan pestisida nabati dinilai aman digunakan. Proses pembuatannya pun tidak sulit. Petisida ini dibuat dengan menggunakan bahan baku yang mudah ditemui. Selain itu, pestisida nabati juga dapat mencegah serangga memakan tanaman, menghambat reproduksi serangga, mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh serangga, dan mengendalikan pertumbuhan jamur dan bakteri.

    Menurut Ema, proses pembuatan pestisida nabati terbilang murah dan mudah. Pestisida nabati juga aman pada manusia dan lingkungan, termasuk tidak meracuni tanaman. Pestisida berbahan alam ini juga  dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah mengalami resistensi terhadap pestisida sintetis. Meski demikian, petisida nabati memiliki beberapa kelemahan, seperti cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga harus sering diaplikasikan. Selain itu, produksi pestisida nabati juga belum dapat dilakukan dalam jumlah besar dan tidak tahan disimpan lama.

Pengendali Hama dan Penyakit

Suatu alternatif pengendalian hama penyakit yang murah, praktis dan relatif aman terhadap lingkungan sangat diperlukan oleh petani yang modalnya terbatas untuk membeli pestisida dari bahan kimia. Secara umum, pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Pestisida nabati merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman, karena pestisida ini mudah terurai dan tidak merusak lingkungan. Usaha penggunaan bahan nabati dapat dimulai dari bahan beracun bagi hama dan agen penyakit misalnya mengandung rasa gatal, pahit dan bau spesifik, yang tidak disukai hewan.

2. ALAT DAN BAHAN

Alat :

Plastik hitam, lesung,parang, alu/ Penumbuk, pengaduk, tali rapia, saringan, Ember, Jerigen

Bahan :

I Kg Umbi gadung

2 Kg Babandotan

½ Kg Serei

½ Kg Lengkuas

EM-4 (dapat diganti dengan Ekstrak BO)

Gula merah/gula pasir/molasses

Cara Pembuatan :

Teknik Fermentasi

1. Semua bahan dipotong-potong kecil; kemudian di tumbuk halus.

2. Masukkan moleses/gula merah 150 ml dan EM-4 150 ml dalam 4 liter air yang telah ada dalam ember kemudian diaduk sampai rata.

3. Masukkan bahan-bahan yang telah ditumbuk kedalam larutan molases, EM-4 dan air lalu aduk sampai rata.

4. Tutup ember tersebut dengan lembaran plastik hitam, lalu diikat dengan menggunakan tali rapiah tutup rapat dengan papan sebagai alat pemberat.

5. Selanjutnya diamkan selama 4 -7 hari agar terjadi fermentasi.

6. Setiap hari campuran tersebut diaduk sampai proses fermentasi selesai.

7. Selanjutnya pisahkan ampas dengan ekstrak pestisida nabati dengan cara diperas dan disaring.

8. Hasil saringan dimasukkan kedalam jerigen lalu simpan dalam ruangan yang aman untuk diaplikasikan.

Teknik Sederhana

1. Semua bahan dipotong-potong kecil; kemudian ditumbuk halus.

2. Masukkan kedalam 4 liter air + 4 gram sabun colek, dan rendam selama 24 jam.

3. Selanjutnya pisahkan ampas dengan ekstrak pestisida nabati dengan cara diperas dan dan disaring


3. CARA APLIKASI

1. Untuk pencegahan digunakan dengan dosis 25 cc/liter air. Disemprotkan pada seluruh bagian tanaman sekali 4 – 7 hari.

2. Untuk pengendalian di gunakan dosis 50 cc/liter air. (Khusus untuk belalang 100 cc/liter air).


 

Gambar 1. Sereh


Sumber referensi :

https://www.unpad.ac.id/2020/08/pestisida-nabati-pengendali-hama-yang-mudah-dan-murah/

























































Selasa, 01 Juni 2021

Penyakit Parasiter pada Ikan Gurame

Penyakit Parasiter pada Ikan Gurame

Pendahuluan

Ikan gurame menjadi salah satu komoditi yang banyak diminati di pasaran. Dalam melakukan budidaya ikan gurame tentu tidak akan terlepas dengan permasalahan penyakit yang akan menjangkit ikan gurame Anda. Nah, untuk mengatasi permasalahan ini, Anda perlu mengenali penyebab dan cara mengatasi penyakit pada gurame. Berikut beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang penyakit pada ikan Gurame:

1. Morfologi Ikan Gurame

Sebelum membahas mengenai penyakit yang biasa menyerang ikan gurame, Anda peru mengetahui bagaimana morfologi dari ikan gurame itu sendiri. Morfologi ikan gurame dapat dilihat sebagai berikut:

  • Ikan gurame memiliki bentuk badan oval agak panjang, pipih, dan punggung tinggi. tubuhnya tertutup sisik yang berukuran besar serta terlihat kasar dan kuat.
  • Badan gurame berwarna kecoklatan dengan bintik hitam pada sirip dada. Ukuran sisiknya besar.
  • Mulut kecil, dengan rahang atas dan bawah tidak rata. Di bagian rahang terdapat gigi – gigi kecil berbentuk kerucut. Deretan gigi bagian luar relative lebih besar dibandingkan dengan gigi bagian dalam. Ikan yang umur tua memiliki dagu yang memanjang.
  • Gurame memiliki lima buah sirip, yang terdiri dari sirip perut, sirip ekor, sirip dubur, sirip punggung, dan sirip dada.
  • Ikan gurame juga memiliki alat pernafasan tambahan yang berupa selaput tambahan berbentuk tonjolan pada bagian atas lapisan insang pertama, atau labyrinth.

2. Pengertian Penyakit Gurame Secara Umum

    Penyakit yang menyerang ikan gurame biasanya dapat timbul karena adanya interaksi yang tidak baik antara ikan dengan lingkungan sekitarnya. Penyebab penyakit ikan gurame secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu penyakit parasite dan penyakit non parasiter. Penyakit parasiter merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit yang tumbuh di dalam atau pada tubuh ikan gurame. Penyakit non parasiter adalah penyakit ditimbulkan bukan dari hama dan organisme parasit.

    Untuk penjelasan yang lebih jelas mengenai penyakit pada ikan gurame, Anda dapat melihat di ciri-ciri ikan gurame yang terserang penyakit dibawah ini :

3. Ciri-Ciri Ikan Gurame Yang Terserang Penyakit Parasiter 

  • Penyakit Pada Insang : Tutup insang mengembang, lembaran insang menjadi pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu.
  • Penyakit Pada Kulit : Pada bagian tertentu kulit berwarna merah, terutama pada bagian dada, perut dan pangkal sirip. Warna ikan menjadi pucat dan tubuhnya berlendir.
  • Penyakit Pada Organ Dalam : Bagian perut ikan bengkak, sisik berdiri, bahkan perut menjadi amat kurus, ikan melemah dan mudah ditangkap.

4. Ciri-Ciri dan Penyebab Penyakit Parasiter Yang Sering Menyerang Gurame:

Apa Itu Penyakit Parasiter? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Anda perlu mengetahui jenis penyakit yang disebabkan oleh parasite pada ikan gurame. Penyakit parasiter adalah penyakit yang disebabkan karena adanya organisme parasit yang hidup di dalam tubuh ikan gurame. Berikut ini beberapa ciri penyakit parasiter yang ada pada ikan gurame yang perlu Anda perhatikan, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Kutu Ikan

Kutu ikan disebabkan oleh parasit Argulus Indicus. Sumber penularan dari penyakit ini  adalah udang renik. Selain itu, kualitas air kolam yang buruk juga menjadi salah satu penyebab utama penyebaran dari penyakit ini. Penularan penyakit ini melalui air dan kontak langsung dengan ikan lainnya. Kutu ikan mengganggu gurame peliharaan Anda dengan cara menempel dan menggigit mangsa sehingga berdarah. Nah, luka-luka itulah yang nantinya bisa mengganggu kesehatan ikan.

b. Mata Belo

Ikan yang terjangkit penyakit mata beli ini bola mata akan membengkak dan akhirnya dapat buta, hingga kemudian akan mati. Gejala awal dari penyakit ini adalah ikan yang terlihat kurang aktif, malas, nafsu makan berkurang, dan dapat yang menyebabkan penurunan berat badannya. Selain itu, ikan yang terserang mata belo juga sering terlihat ke atas permukaan air. Penyebab dari penyakit ini adalah sejenis cacing yang mengganggu area pengelihatan dan kepala ikan gurame.

c. Bintik Putih

Penyakit selanjutnya adalah penyakit bintik putih. Ciri-ciri yang terlihat pada ikan gurame yang terkena penyakit ini adalah munculnya bercak-bercak putih yang muncul pada beberapa bagian kulit ikan gurame. Ikan gurame akan cenderung menggesekkan badannya pada lingkungan sekitarnya. Selain itu, ciri lainnya adalah; mulut ikan gurame akan kembang kempis seperti kekurangan oksigen.

Meski tampak tidak berbahaya, namun penyakit bintik putih ini bisa menyebabkan ikan sangat terganggu dan merugikan. Ini dikarenakan penyakit bintik putih disebabkan oleh parasit Ichthyophtyrius multifillis.

d. Myxosporeasis

Ciri-ciri dari ikan yang terjangkit penyakit ini adalah ekor ikan menjadi berwarna gelap akibat kerusakan saraf, terjadinya deformasi tulang yang mengakibatkan berubahnya bentuk tubuh ikan (membengkok), serta terdapat benjolan menyerupai butiran padi pada insangnya. Penyakit Myxosporeasis ini biasa muncul akibat kualitas air yang buruk, kandungan oksigen terlarut rendah, serta kepadatan ikan gurame yang terlalu padat. Penyakit myxosporeasis ini dapat menular melalui media air. Meski begitu, penyakit ini disebabkan oleh Myxobolus celebralis yang cukup berbahaya.

e. Cacing Insang dan Kulit

Penyakit cacing insang dan cacing kulit ini disebabkan oleh parsit Dactylogyriasis. Parasit ini menyerang benih gurame, utamanya di bagian badan dan insang. Ciri-ciri gurame yang terserang penyakit ini adalah ikan gurame akan tampak lemah, nafsu makan berkurang, dan sering berkumpul di permukaan air karena kekurangan oksigen. Akibat penyakit ini, kesehatan ikan furame akan sangat terganggu. Jika dibiarkan, bahkan bisa menyebabkan kematian.

f. Bercak Merah

Penyakit bercak merah disebabkan oleh bakteri Aeromona punctata. Ciri-ciri ikan yang terserang penyakit ini adalah permukaan kulit akan berubah warna menjadi gelap dan juga akan mengeluarkan lendir. Akibat penyakit bercak merah ini, ikan menjadi lemah dan sangat mengganggu

g. Columnaris

Sesuai namanya, penyakit memang disebabkan oleh parasit bernama Flexybacter columnaris. Anda bisa mengenali serangan penyakit ini melalui gejala-gejala yang tampak. Gejala yang dialami oleh ikan gurame ketika diserang penyakit columnaris adalah adalah gerakan ikan menjadi lambat, bobot berkurang dan yang paling mencolok adalah keluarnya pendarahan di bagian insang dan sirip.

h. Trichodina

Penyakit trichodina disebabkan oleh parasit Trichodina sp. yang menyerang bagian kulit dan sirip ikan. Penyakit ini menyerang bagian kulit dan sirip ikan. Pada ikan gurame penyakit ini akan menyebabkan luka di sekujur bagian yang diserang.

i. TBC

Bukan hanya manusia, ikan gurame juga bisa menderita penyakit TBC. Penyakit TBC pada ikan gurame disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium sp. Gejala ikan gurame yang terserang penyakit TBC di antaranya adalah nafsu makan yang berkurang. Gejala lain gurame terserang TBC adalah kulitnya menjadi lebih gelap dan timbul bercak merah hingga perdarahan di sekujur badan. Jika bakteri Mycobacterium sp  ini lama berada di dalam badan gurame, maka akan muncul benjolan-benjolan kecil dan bagian perut ikan membengkak (dropsy). Selain itu, mata gurame juga akan menonjol seperti hendak jatuh.

Gangguan penyakit dapat berupa penyakit non parasiter dan penyakit parasiter. Gangguan penyakit dapat lebih mudah menyerang ikan gurami pada saat musim kemarau dimana suhu menjadi lebih lebih dingin. Penyakit parasiter diakibatkan parasit. Parasit adalah hewan atau tumbuh-tumbuhan yang berada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Berdasarkan letak penyerangannya parasit dibagi menjadi dua kelompok yaitu ektoparasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan endoparasit yang berada dalam tubuh ikan.

Ciri-Ciri Gurame yang Terkena Parasiter

a. Penyakit pada kulit :

Pada bagian tertentu kulit berwarna merah, terutama pada bagian dada, perut dan pangkal sirip. Warna ikan menjadi pucat dan tubuhnya berlendir. 

b. Penyakit pada insang :

Tutup insang mengembang, lembaran insang menjadi pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu. 

c. Penyakit pada organ dalam :

Perut ikan membengkak, sisik berdiri. Kadang-kadang sebaiknya perut menjadi amat kurus, ikan menjadi lemah dan mudah ditangkap. 

Parasit yang Sering Menyerang Gurame 

Salah satu parasit yang sering menyerang ikan gurame adalah Argulus indicus yang tergolong Crustacea tingkat rendah yang hidup sebagai ektoparasit, berbentuk oval atau membundar dan berwarna kuning bening. Parasit ini menempel pada sisik atau sirip dan dapat menimbulkan lubang kecil yang akhirnya akan menimbulkan infeksi. Selanjutnya infeksi ini dapat menyebabkan patah sirip atau cacar. Parasit lainnya adalah Aeromonas hdyrophyla, Pseudomonas, dan cacing Thematoda yang berasal dari siput-siput kecil.

Penangangan Penyakit Parasiter

Untuk penanganan penyakit ini dapat dilakukan dengan :

a. Mengangkat dan memindahkan ikan ke dalam kolam lain dan melakukan penjemuran kolam yang terjangkit penyakit selama beberapa hari agar parasit mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset. 

b. Pembudidaya ikan di daerah Banyumas menggunakan daun lambesan (Chromolaena odorata) sebagai antibiotik. Daun lambesan dimasukkan ke dalam kolam sebelum ikan di tebar yaitu pada saat pengolahan kolam. Daun lambesan yang dipakai adalah 1 pikul (yaitu kurang lebih 50 kg) untuk luas tanah 25 m2. Penggunaan daun ini adalah 1 kali untuk 1 masa tanam.

Penggunaan obat-obatan kimia untuk ikan konsumsi tidak dianjurkan mengingat dampaknya yang tidak baik. Kalaupun diberikan obat-obatan tidak boleh langsung di jual kepada konsumen akhir. Penggunaan obat-obatan pada ikan konsumsi juga sebaiknya tidak diberikan apabila ikan yang hendak diekspor. 


Gambar 1. Ikan yang terserang penyakit parasiter


Sumber referensi :

https://gdmorganic.com/penyakit-ikan-gurame/















Jumat, 28 Mei 2021

Jenis Ikan Gurame

Jenis Ikan Gurame

 Pendahuluan

     Varietas, gurame dibagi menjadi 2 jenis, yaitu gurame putih dan gurame merah. Ciri-ciri gurame putih secara umum ditandai dengan sisik tubuhnya berwarna putih keperakan, sedangkan varietas merah ditandai dengan warna sisiknya yang merah kecoklatan.

Jenis gurame varietas putih yang telah dibudidayakan dan sudah dikenal masyarakat, diantaranya gurame jepun, porselen, blausafir, paris dan bastar. Sedangkan varietas merah diantaranya adalah gurame angsa dan gurame Purwokerto. Bagi orang awam, sulit membedakan jenis-jenis gurame tersebut. Namun, tidak demikian halnya bagi para pembudidaya gurame yang telah ahli.

 Jenis dan Keunggulan Gurame

a. Gurame Angsa atau Soang

Tubuh berwarna putih abu-abu dan bersisik besar. Ukuran tubuh lebih besar dan panjang dibanding jenis lain. Panjang tubuh maksimum 65 cm. Bila dipelihara dengan baik, bobotnya mencapai 2-8 kg/ekor. Pertumbuhan pesat. Telur yang dihasilkan induk betina lebih banyak.

b. Gurame Purwokerto

Warna tubuh hitam keabu-abuan. Bobot dan panjang tubuh hampir sama dengan gurame soang. Ciri-ciri yang menonjol adalah pertumbuhannya yang lebih cepat dibanding gurame jenis lainnya.

c. Gurame Jepun

Warna putih keabu-abuan dan kemerahan. Sisiknya tidak terlalu besar. Berat mencapai 3,5 kg/ekor. Tubuhnya lebih pendek dari jenis lain, maksimum 45 cm. 

d. Gurame Porselen

Tubuh umumnya berwarna keperakan dan merah muda (cerah) dengan ukuran kepala relatif kecil. Gurame porselen mempunyai kemampuan menghasilkan telur yang banyak sehingga baik untuk kegiatan pembenihan. Telur yang dihasilkan mencapai 10.000 butir/ekor induk. Dibanding dengan jenis lain yang hanya mampu menghasilkan telur sekitar 2.000-3.000 butir telur/ekor induk untuk berat tubuh induk yang sama. Berat induk 1,5-2 kg. Gurame porselen paling banyak banyak diminati pembenih gurame sebagai gurame pilihan indukan.

e. Gurame Blausafir

Warna cerah. Ikan yang telah menjadi induk memiliki panjang mencapai 35 cm. Berat 4 kg/ekor. Jenis ini mampu menghasilkan telur mencapai 5.000 butir per induk.

f. Gurame Paris

Tubuh berwarna cerah dengan sisik agak halus. Ukuran tubuh lebih kecil dibanding dengan jenis lain. Kemampuannya menghasilkan telur sekitar 5.000-7.000 butir per induk

g. Gurame Bastar

Induk gurame bastar, lebih dikenal oleh para pembudidaya sebagai gurame pedaging. Mempunyai sisik besar dengan warna agak kehitaman. Kepala berwarna putih polos. Oleh karena keunggulannya tersebut, gurame jenis ini dikenal masyarakat sebagai gurame pilihan.

Gambar 1. Ikan Gurame 

Sumber referensi :

- https://workamerica.co/jenis-ikan-gurame/

- https://www.faunadanflora.com/jenis-jenis-gurame-beserta-gambar-dan-penjelasannya/







Senin, 24 Mei 2021

Menyeleksi dan Memilih Jenis Induk Ikan Unggul

Menyeleksi dan Memilih Jenis Induk Ikan 

Mas Unggul


Keberhasilan usaha pembenihan ikan mas sangat ditentukan oleh kualitas induk. Pemilihan calon induk harus mempertimbangkan ras atau varietas ikan yang akan dipelihara. Ciri-ciri calon induk yang baik berbeda-beda untuk setiap ras atau varietas. Secara umum ciri-ciri calon induk yang baik sebagai berikut :
  • Sehat, tidak cacat, dan tidak terluka.
  • Umur induk 1.5—3 tahun.
  • Sisik tersebar teratur dan berukuran agak besar.
  • Sisik tidak terluka dan tidak cacat.
  • Bentuk dan ukuran tubuh seimbang, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus.
  • Tubuh tidak terlalu keras atau terlalu lembek.
  • Perut lebar dan datar.
  • Ukuran tubuh relatif tinggi.
  • Bentuk ekor normal, cepat terbuka, pangkal ekor relatif lebar, dan tebal.
  • Kepala relatif kecil dan moncongnya lancip, terutama pada induk betina. Sebab, jumlah telur ikan mas yang berkepala kecil biasanya lebih banyak daripada ikan yang berkepala besar.
  • Jarak lubang dubur relatif dekat dengan pangkal ekor.
  • Di samping sifat-sifat umum di atas, perlu juga diperhatikan beberapa sifat spesifik induk ikan mas jantan dan induk ikan mas betina. Sifat-sifat spesifik tersebut sebagai berikut.

Induk betina mulai dapat dipijahkan setelah berumur 1.5 tahun atau minimal berbobot 1.5 kg.
Induk betina mulai matang kelamin (cukup untuk dipijahkan) jika perutnya terasa lunak dan sudah tampak membengkak ke arah belakang, dari atas lubang urogenital (lubang urine sekaligus kelamin). Lubang urogenital biasanya berwarna kemerahan dan agak terbuka, tetapi banyak juga yang tidak terbuka.
Induk yang telah matang kelamin pada umumnya tidak banyak bergerak atau gerakannya sangat perlahan.
Induk jantan mulai dipijahkan ketika berumur lebih dari enam bulan atau telah mencapai bobot minimal 0.5 kg.
Jika bagian perut induk jantan yang telah matang kelamin ditekan, akan keluar sperma.
Memilih induk ikan yang baik bukanlah pekerjaan mudah. Ikan yang berukuran paling besar belum tentu termasuk ikan yang pertumbuhannya paling cepat di dalam populasi tersebut. Hal ini terutama terjadi pada populasi calon induk yang mengalami penebaran dan pemanenan sampai beberapa kali.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan induk yang baik sebagai berikut.

  • Pemilihan calon induk dilakukan saat ikan masih burayak atau seukuran jari. Hal ini akan menjamin diperolehnya ikan-ikan yang baik untuk dibenihkan. Calon induk yang telah terpilih kemudian diberi tanda, misalnya pemotongan sirip atau pemasangan anting.
  • Ikan yang sudah diberi tanda tersebut dapat dicampur dengan ikan lain.
  • Menghindari terjadinya kawin silang dalam, yakni perkawinan ikan yang terjadi antarkerabat dekat. Kawin silang dalam akan menurunkan kecepatan pertumbuhan keturunan sampai 20%, menurunkan tingkat keberhasilan pembenihan, dan menurunkan resistensi (ketahanan) terhadap serangan penyakit. Perkawinan ikan antarsaudara misan juga akan menurunkan pertumbuhan sekitar 5% pada setiap generasi. Kawin silang dalam kemungkinan besar terjadi jika induk ikan itu digunakan berulang-ulang selama beberapa tahun sehingga keturunannya dapat kawin dengan biangnya.
  • Unit pembenihan minimal menggunakan induk sebanyak 30 ekor. Jumlah keseluruhan induk menggunakan perbandingan 3 jantan : 1 betina atau 3 jantan : 2 betina. Jika populasi induk seperti di atas, pemijahan dapat berlangsung sepanjang musim. Pemijahan hendaknya menggunakan stok induk hasil pemijahan yang berbeda untuk menghindari terjadinya kawin silang dalam.
  • Generasi-generasi calon induk hendaknya dipelihara secara terpisah untuk menghindari terjadinya pemijahan antara induk dan turunannya. Hal ini merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kualitas genetis induk.
  • Menggunakan ras atau strain unggul dari petani atau Balai Benih Ikan setempat. Ras ikan yang tahan penyakit dan memiliki produktivitas tinggi dapat tersedia dari program-program penelitian genetik perikanan. Apabila ras-ras ikan tersebut dapat dibuktikan keunggulannya, dengan sendirinya dapat dikembangkan di masyarakat petani ikan.  Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan atau pemeliharaan induk sebagai berikut. 
  • Untuk memperoleh induk unggul, sebaiknya dilakukan seleksi berdasarkan standar yang telah dibakukan.
Ada tiga cara yang umum dilakukan oleh pembudidaya ikan untuk mendapatkan induk yang baik dan unggul sehingga dapat menghasilkan benih yang unggul pula. Ketiga cara tersebut adalah seleksi massal, seleksi individu dan seleksi ilmiah. 
Ketiga cara tesebut tentu saja memiliki kelebihan maupun kekurangan. Berikut ini adalah ketiga cara memperoleh induk dan benih unggul :

a. Seleksi Massal
Salah satu cara yang paling sederhana dan murah adalah dengan seleksi missal. Seleksi ini merupakan hasil pemijahan berbagai jenis induk ikan yang dimiliki.
Selanjutnya dipilih benih hasil pemijahan yang mempunyai keunggulan fisik seperti pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan benih lainnya, warna yang sesuai dengan induknya, tubuh tidak cacat dan mempunyai sifat-sifat unggul dari induknya.

b. Seleksi Individu
Cara lain untuk memperoleh induk unggul adalah dengan seleksi individu, yaitu seleksi yang dilakukan secara individu atau ekor per ekor. Benih yang digunakan dipilih dari berbagai induk atau daerah. Selanjutnya dipilih benih yang terbaik, yaitu yang mempunyai karakteristik sesuai dengan standar yang telah dibakukan, seperti tidak cacat fisik dan mempunyai sifat-sifat unggul yang diturunkan oleh induknya. Benih yang dihasilkan memiliki kriteria kuantitatif sesuai dengan tahap pemeliharaannya, yaitu p-I, P-II, P-III, P-IV dan P-V. untuk lebih jelasnya syarat benih yang dapat dijadikan calon induk dan diharapkan mempunyai keunggulan dibanding induk yang belum jelas asal keturunannya. Berikut ini adalah kriteria tersebut:
Larva : umur 10-12 hari, panjang total 0,75-1 cm, bobot minimal 0,03 gr, keseragaman ukuran > 80%
Benih P-I : umur 40 hari, panjang total 1-2 cm, bobot minimal 0,2 gr, keseragaman ukuran > 80%
Benih P-II : umur 80 hari, panjang total 2-4 cm, bobot minimal 0,5 gr, keseragaman ukuran > 80%
Benih P-III : umur 120 hari, panjang total 4-6 cm, bobot minimal 1,0 gr, keseragaman ukuran > 80%
Benih P-IV : umur 160 hari, panjang total 6-8 cm, bobot minimal 3,5 gr, keseragaman ukuran > 80%
Benih P-V : umur 200 hari, panjang total 8-11 cm, bobot minimal 7,0 gr, keseragaman ukuran > 80%

c. Seleksi Alamiah
Seleksi alamiah terjadi secara kebetulan, yaitu benih yang dijadikan induk diperoleh dari induk-induk yang tidak jelas, tetapi mempunyai keunggulan sesuai standar baku, baik dari segi pertumbuhan maupun kriteria lainnya. 
Benih semacam ini biasanya ditemukan secara tidak sengaja pada kolam pemeliharaan. Umurnya tidak jelas, tetapi kualitas keturunan yang dihasilkan sangat baik. Baiknya kualitas dimungkinkan karena adanya perawatan yang lebih baik oleh induknya. 
Pada umumnya benih dari hasil seleksi alamiah sangat sedikit jumlahnya, tetapi kualitasnya baik sehingga sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai induk.

Gambar 1. Induk Ikan Mas 

Sumber referensi :
https://agromedia.net/tip-seputar-pemilihan-induk-ikan-mas-2/



Senin, 17 Mei 2021

Mengolah Ikan Asin Berbahan Ikan Betutu

Mengolah Ikan Asin Berbahan Ikan Betutu

PENDAHULUAN

   Ikan asin adalah bahan makanan yang terbuat dari daging ikan yang diawetkan dengan menambahkan banyak garam. Dengan metode pengawetan ini daging ikan yang biasanya membusuk dalam waktu singkat dapat disimpan di suhu kamar untuk jangka waktu berbulan-bulan, walaupun biasanya harus ditutup rapat. Selain itu, daging ikan yang diasinkan akan bertahan lebih lama dan terhindar dari kerusakan fisik akibat infestasi serangga, ulat lalat, dan beberapa jasad renik perusak lainnya. Pengeringan atau pengasinan, baik dengan garam kering maupun air garam, adalah satu-satunya metode pengawetan ikan yang tersedia secara luas sampai abad ke-19. Ikan kering dan ikan asin (atau ikan kering dan asin) adalah makanan pokok di Karibia, Afrika Barat, Afrika Utara, Asia Selatan, Asia Tenggara, Tiongkok Selatan, Skandinavia, sebagian Kanada termasuk Newfoundland, pesisir Rusia, dan kutub Utara. Seperti daging asin lainnya, ia menyediakan protein hewani yang diawetkan bahkan tanpa pendinginan.

    Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Namun ikan juga cepat mengalami proses pembusukan dibanding bahan makanan lainnya. Oleh sebeb itu pengawetan perlu dilakukan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan sehingga tidak cepat membusuk. Salah satu cara pengawetan ikan secara tradisional yaitu dengan pengeringan. Proses pengeringaan menghambat aktivitas mikroorganisme dan enzimitas penyebab kerusakan pada ikan.  

Spesies ikan Betutu sudah banyak ditemukan diperairan Danau Tempe dan sudah dimanfaatkan oleh nelayan disekitarnya.

A. B a h a n :

Bahan utama : Ikan Betutu (Lappuso)

Garam

B. Peralatan :

1. Pisau

2. Baskom

3. Talenan

4. Keranjang

5. Para-para (tempat menjemur ikan)

6. Kemasan


C. Cara Membuat :

1. Ikan Betutu disiangi dihilangkan isi perutnya lalu dicuci bersih.

2. Sayat-sayat untuk ikan yang berukuran besar, belah dari punggungnya untuk ikan yang berukuran kecil. 

3. Setelah dicuci lalu dimasukan kedalam bejana tau baskom dan kemudian ditaburi garam.

4. Ikan disusun diatas para-para lalu dijemur selama 2-3 hari. Lama penjemuran juga tergantung dari cuaca dan tingkat pengrtingan yang diinginkan

5. Setelah ikan dijemur atau kering kemudian disortir sesuai mutu dan ukuran.

6. Selanjutnya ikan Betutu kering dikemas dalam kemasan plastic (mika) dan diberi label

7. Terakhir ikan Betutu kering  yang sudah dikemas siap untuk didistribusikan atau dipasarkan.    

Gambar 1. Ikan Asin 

Sumber referensi :

- https://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_asin

-https://www.merdeka.com/jabar/7-resep-tumis-ikan-asin-sederhana-ala-rumahan-enak-dan-menggugah-selera-kln.html 






















































         





 



      



Cara Budidaya Ikan Lele dengan Media Kolam Tanah dan Tips Pemeliharaannya Budidaya ikan lele merupakan salah satu kegiatan atau usaha yang b...